2010 in review
The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

The Blog-Health-o-Meter™ reads This blog is doing awesome!.
Crunchy numbers
A Boeing 747-400 passenger jet can hold 416 passengers. This blog was viewed about 4,100 times in 2010. That’s about 10 full 747s.
In 2010, there were 20 new posts, growing the total archive of this blog to 38 posts. There were 6 pictures uploaded, taking up a total of 168kb.
The busiest day of the year was April 30th with 64 views. The most popular post that day was Built back better in Aceh five years after tsunami.
Where did they come from?
The top referring sites in 2010 were search.conduit.com, id.wordpress.com, google.co.id, rovicky.wordpress.com, and search-results.com.
Some visitors came searching, mostly for pencemaran laut, kawah sinila, pencemaran laut timor, yonif 613, and sinila.
Attractions in 2010
These are the posts and pages that got the most views in 2010.
Built back better in Aceh five years after tsunami December 2009
Pencemaran laut Timor mengakibatkan banyak ikan mati November 2009
Kawah Beracun Sinila November 2009
Ancaman gempa bumi di Mentawai December 2009
Zat Timah Kategori Sangat Berbahaya Cemari Laut Timor February 2010
Komando Gabungan sebagai solusi bencana Merapi
Ini seri ketiga tentang CERT.
Merapi meletus pada tahun 2010 ini berdampak pada kerusakan di berbagai daerah meliputi 2 provinsi , DIY dan Jawa Tengah. Selain itu meliputi banyak kota, Boyolali, Sleman, Magelang dan lainnya. Bila kita memasukkan dampak debu, maka daftar kota dan provinsi akan semakin bertambah luas. Dengan kompleksitas daerah bencana secara geografis dan politik, maka solusi komando bencana bisa dibagi menjadi 2 pilihan.
- Membagi penanganan bencana secara geografis/politik. Solusi ini sederhana, namun dalam pengalamannya, terbukti terdapat ketidakefektifan dan pembengkakan biaya.
- Membuat struktur ICS tunggal dengan pendekatan multiyuridiksi. Solusi ini dikenal sebagai Unified Command atau Komando Gabungan (KG).
KG tidak hanya bisa diterapkan untuk bencana meliputi multiyuridiksi namun juga bisa juga dipakai untuk bencana yang kompleks yang memerlukan pendekatan multifungsional. Sebagai contoh, kebakaran pabrik bahan kimia. Banyak tim yang terlibat dalam bencana ini. Misalnya, kepolisian, pemadamam kebakaran, medis, tim bahan kimia berbahaya, dll. Sehingga KG merupakan solusi yang tepat untuk mencapai keefektifan operasi.
Membuat struktur ICS tunggal dengan pendekatan multiyuridiksi. Solusi ini dikenal sebagai Unified Command atau Komando Gabungan.
Dengan KG, seluruh perwakilan dari masing-masing yuridiksi dapat berinteraksi dengan efetif dan merumuskan satu tujuan operasi beserta strategi. Namun, mereka tetap menjaga otoritas, tanggungjawab, dan akuntabilitasnya. Selain itu, setiap individu tetap mempertahankan prinsip ICS yaitu kesatuan komando. Setiap individu hanya melapor pada satu supervisor, sehingga miskomunikasi dapat dihindari. Terlebih pada bencana Merapi dengan banyaknya daerah yang terkena dampak dan banyaknya relawan dan tim penyelamat yang datang dari berbagai daerah dan latar belakang keahlian.
Dalam KG, secara struktur tidak jauh berbeda dengan sistem komando biasa seperti yang pernah saya tulis dalam seri kedua tulisan tentang tanggap bencana. Perbedaan terletak pada komandan tanggap bencana. Komandan tanggap bencana dipegang oleh komandan dari masing-masing yuridiksi. Sebagai contoh, BPBD Jawa Tengah bersama dengan BNPB dan badan-badan lainnya. Mereka bekerja merumuskan tujuan operasi gabungan.
Ada 4 unsur yang harus diperhatikan dalam KG ini :
- Kebijakan, tujuan, dan strategi
- Organisasi
- Sumber daya
- Operasional
Kebijakan, tujuan, dan strategi dirumuskan bersama-sama sebelum melakukan operasi taktis. Organisasi terdiri atas bermacam badan dari berbagai yuridiksi beroperasi dibawah struktur KG. Sumber daya disumbangkan oleh badan-badan tersebut yang memiliki tanggungjawab yuridiksi, fungsioanl, dan keuangan. Dalam KG, hanya satu orang yang memegang peranan sebagai Kepala Seksi Operasional. Orang ini yangtanggungjawab mengendalikan sumber daya taktis dan mengarahkan segala tindakan operasional tanggap bencana. Namun, sumber daya (manusia dan peralatan) tetap berada dalam kendali administrasi dan kebijakan masing-masing badan. Jadi meskipun komandan tanggap bencana dipegang oleh banyak pimpinan, namun dalam menerapkan operasional semua dikendalikan oleh satu orang.
Jadi meskipun komandan tanggap bencana dipegang oleh banyak pimpinan, namun dalam menerapkan operasional semua dikendalikan oleh satu orang.
Sistem Komando Bencana dan komponennya
Tulisan ini seri kedua tentang pengalaman saya menjadi sukarelawan tanggap bencana berbasis komunitas (CERT) di Amerika Serikat. Kali ini saya menyajikan pengetahuan dasar tentang sistem komando bencana. Saya berharap agar pengetahuan ini dapat diterapkan dengan baik oleh rekan-rekan relawan tanggap bencana di tanah air. Terlebih dengan beruntunnya bencana yang terjadi pada bulan Oktober 2010, yaitu banjir Wasior, tsunami dan gempa di Mentawai, gunung Merapi meletus dan lain sebagainya.
Incident Command System (ICS) yang bisa diterjemahkan sebagai Sistem Komando Bencana dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1970an. Ketika itu terjadi bencana besar kebakaran di wilayah California. Kerugian harta benda ditaksir mencapai jutaan dolar dan banyak menelan korban jiwa baik meninggal maupun luka-luka. Penelitian yang dilakukan atas peristiwa tersebut menunjukkan bahwa masalah respon bencana diakibatkan oleh tidak bagusnya manajemen penanganan bencana. Sedangkan kurangnya sumber daya atau gagalnya taktik penanganan bencana jarang menjadi penyebab masalah buruknya penanganan bencana.
Penelitian yang dilakukan atas peristiwa tersebut menunjukkan bahwa masalah respon bencana diakibatkan oleh tidak bagusnya manajemen penanganan bencana
ICS ini tidak hanya bisa diterapkan pada kondisi bencana, namun dapat juga digunakan untuk mengatur jalannya sebuah acara. ICS ini bagian penting dalam National Incident Management System (NIMS). ICS digunakan di berbagai tingkatan adminsitrasi, baik pusat, daerah, maupun lokal. Begitu pula dengan sektor privat dan lembaga sosial masyarakat. Sistem ini diterapkan untuk mengorganisasi bencana dari yang kecil maupun yang paling rumit, baik bencana alam maupun bencana buatan manusia (terorisme). Sistem ini terstruktur untuk memfasilitasi segala aktifitas yang terangkum dalam 5 fungsi utama, yaitu : komando, operasi, perencanaan, logistik, dan administrasi.
Prinsip komando dalam ICS ini terbagi dalam beberapa bagian. Bagian pertama yang harus dipahami adalah Rantai Komando. Rantai komando artinya adanya urutan garis otoritas dan hubungan pelaporan dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Segala laporan dan perintah harus mentaati garis rantai komando. Namun, hal ini tidak berlaku untuk aktifitas yang lain seperti meminta dan membagi informasi. Informasi dapat dibagi dan disebarluaskan secara fleksibel antar lini. Bagian yang kedua adalah Kesatuan Komando. Di bawah kesatuan komando, seluruh personel harus melapor hanya pada satu supervisor dan menerima tugas hanya dari supervisor tersebut.
Struktur Organisasi ICS dapat disimak sebagai berikut :
bersambung di edisi selanjutnya
Menjadi sukarelawan tanggap bencana
Tulisan ini akan saya buat berseri dalam kaitannya tentang penanganan bencana. Tulisan berseri ini seputar pengalaman saya sebagai tenaga sukarelawan tanggap bencana di Amerika Serikat.
————————-
Sebenarnya sudah cukup lama saya ingin bergabung sebagai tenaga sukarelawan tanggap bencana. Namun, baru tahun ini, saya mendaftarkan diri sebagai tenaga sukarelawan tanggap bencana di kampus saya, Wesleyan University. Komunitas kami ini dikenal sebagai Community Emergency Response Team (CERT). CERT ini bisa dibentuk setingkat kota atau kampus/perusahaan. Nah, kampus kami mempunyai tim CERT sendiri, sebagai bagian dari CERT kota Middletown. Meskipun CERT terbentuk kedaerahan namun anggota CERT suatu daerah dapat dipanggil untuk diaktifkan melayani tanggap bencana di daerah lain.
Untuk menjadi CERT Wesleyan, saya hanya mendaftarkan diri lewat email kepada komandan CERT Wesleyan. Kemudian saat liburan musim panas 2010, para anggota baru mendapatkan materi awal untuk menjadi anggota CERT. Setelah mendapatkan pelatihan materi awal, kami menjadi bagian dari Presiden’s Citizen Corps. Dan kamipun disumpah oleh perwakilan dari US Department of Homeland Security. Saya juga tidak ingat semua apa isi sumpahnya hehehehe…. Namun, pada intinya kami bersedia untuk menjadi sukarelawan untuk tanggap bencana, baik bencana alam maupun bencana yang disebabkan oleh aksi terorisme.
Isi pelatihan ini terbagi atas :
- Disaster Preparedness
- Fire Safety
- Disaster Medical Operations, terbagi menjadi 2 bagian
- Light Search and Rescue Operations
- CERT Organization
- Disaster Psychology
- Terrorism and CERT
- Disaster Simulation
saya akan bercerita lebih lengkap untuk seri berikutnya.
Padang Lebih Siap Hadapi Gempa dan Tsunami
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), saat ini dinilai lebih maju dalam mengantisipasi kemungkinan datangnya di masa mendatang.
Kemajuan tersebut ditunjukkan dengan berbagai upaya mitigasi bencana yang dilakukan Pemerintah Kota Padang dan Provinsi Sumatera Barat, serta Taruna Siaga Bencana (Tagana) setempat.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan shelter multifungsi sebagai tempat perlindungan sekaligus terminal evakuasi apabila terjadi gempa dan tsunami. Hal tersebut dikatakan oleh Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) Andi Arief, Kamis (5/8/2010), setelah mendapat laporan dari Tim Assessment dari Kantor SKP BSB yang sedang melakukan penilaian terhadap kesiapan Sumatera Barat, khususnya Kota Padang dan Kepulauan Mentawai, dalam menghadapi potensi gempa bumi dan tsunami.
“Padang dan Mentawai berada pada jalur red zone, salah satu jalur patahan tektonik aktif yang paling rawan gempa di Indonesia. Kewaspadaan pemerintah dan masyarakat melalui berbagai langkah mitigasi bencana, harus ditingkatkan,” kata Andi Arief.
Pemkot Padang telah menyelesaikan pembangunan satu shelter multifungsi dari seratus shelter yang direncanakan. Satu shelter yang selesai dibangun itu merupakan gedung SMA Negeri 1 Padang.
“Secara umum, shelter mutifungsi didesain empat tingkat dengan luas bangunan yang bervariasi sesuai keadaan lokasi. Selain didesain khusus untuk memecah ombak, atap shelter juga difungsikan sebagai helipad bagi pendaratan helikopter,” lanjutnya.
Padang pantas bersiap untuk menghadapi situasi yang sulit. Sebab, menurut Andi, setidaknya terdapat tiga hasil riset yang menyebutkan tingginya potensi kegempaan di Padang dan gugusan Kepulauan Mentawai, yang dipisahkan oleh selat Mentawai.
“Tiga riset tersebut adalah penelitian koral mikroatal yang dilakukan Dr. Danny Hilman Natawidjaja dari LIPI, peta seismic hazard 2010 yang baru saja dirilis oleh sembilan pakar gempa bumi Indonesia, serta analisis statistik yang dilakukan Ir. Didik Wahju Widjaja,” katanya.
Bagian pesisir Padang yang padat, oleh National Geographic juga disebut sebagai tempat beresiko tertinggi di dunia apabila terjadi tsunami. (*)
Rumah Unik Khas Warga Kampung Naga, Tahan Gempa dengan Sistem Garumpai
[ Minggu, 21 Maret 2010 ]
Tiba di Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, pengunjung disuguhi pemandangan deretan rumah-rumah unik khas warga Kampung Naga. Rumah-rumah tersebut beratap ijuk dan rumbia serta berdinding kayu dan anyaman bambu.
Struktur dan fondasi bangunan milik warga Kampung Naga disesuaikan dengan filosofi adat Sunda. Bangunan didirikan layaknya struktur tubuh manusia. Bangunan tersebut terdiri atas suku (kaki, Red), awak (badan, Red), dan sirah (kepala, Red). Tiap bagian diartikan warga sebagai akhlak yang harus dilaksanakan manusia. Yakni, tekad (niat), ucap (perkataan), dan lampah (perbuatan).
Keunikan bangunan Kampung Naga juga terletak pada cara pemasangannya. Atap rumah terpasang dengan kukuh. Bahkan, atap tersebut kuat menahan guncangan gempa bumi. Padahal, atap itu dipasang tanpa paku. Untaian atap rumah terpasang dengan adanya rangkaian bambu penyangga yang disebut garumpai. Garumpai berfungsi menjaga kesatuan konstruksi atap bangunan. Garumpai bisa lentur mengikuti gerakan ketika terjadi gempa.
Rumah adat Naga berdiri di atas batu-batu penyangga yang tidak dicor atau ditanam ke dalam tanah. Tiang-tiang utama rumah hanya ditumpukkan pada batu. Konstruksi tersebut bisa sangat dinamis mengikuti getaran. Tiap bagian memiliki fungsi penting. Ketiganya harus berjalan beiringan tanpa mungkin dipisahkan satu sama lain.
Seluruh bangunan di kampung seluas 1,5 hektare itu tertata dengan rapi. Luas tersebut tidak berubah dari masa ke masa. Pertambahan penduduk dialihkan ke luar Kampung Naga atau disebut Naga Luar. Saat ini, wilayah itu dihuni 314 orang. Batas Kampung Naga di sebelah timur adalah Sungai Ciwulan. Sebelah barat berbatasan dengan bukit dan hutan larangan. Sebelah utara dan selatan berbatasan dengan parit air.
Di antara total 113 bangunan di wilayah Kampung Naga, ada empat bangunan utama yang dianggap penting. Yakni, bale ageung, bale kampung, masjid, dan leuit (lumbung). (jpnn/c12/ruk)
sumber : jawapos
Lapindo Disaster Caused By Human Error: Study
Paris. Drilling firm PT Lapindo Brantas, owned by Golkar Party chairman Aburizal Bakrie, was to blame for unleashing a mud volcano in East Java that claimed 14 lives and displaced tens of thousands of people, a major international study has concluded.
In a paper published by the journal Marine and Petroleum Geology, a group led by experts from Britain’s Durham University, said the new clues bolstered suspicions the catastrophe was caused by human error.
Lapindo Brantas maintained in the same journal that the “Lusi” mud volcano was unleashed by an earthquake at Yogyakarta, 280 kilometers away.
Lusi’s mud has been devouring land and homes in Sidoarjo district since May 2006, imperilling as many as 100,000 people through subsidence and inflicting damage at $4.9 billion, according to an estimate by an Australian expert.
Durham professor Richard Davies said drillers, looking for gas nearby, had made a series of mistakes.
They had overestimated the pressure the well could tolerate, and had not placed protective casing around a section of open well.
Then, after failing to find any gas, they hauled the drill out while the hole was extremely unstable. By withdrawing the drill, they exposed the well hole to a “kick” from pressurised water and gas from surrounding rock formations.
The result was a volcano-like inflow that the drillers tried in vain to stop, he said.
“We found that one of the on-site daily drilling reports states that Lapindo Brantas pumped heavy drilling mud into the well to try to stop the mud volcano,” Davies said in a press release.
By pumping in this heavy mud, the drillers had hoped to create sufficient pressure in the column of the well hole to block the fluid pouring in from the rupture, Davies said.
Zat Timah Kategori Sangat Berbahaya Cemari Laut Timor
Inilah berita terbaru tentang pencemaran laut Timor
Selasa, 9 Februari 2010 | 15:24 WIB
KUPANG, KOMPAS.com - Meledaknya sumur minyak Montara di Blok Atlas Barat di Laut Timor pada 21 Agustus 2009 lalu juga menumpahkan gas dan kondesat berbahaya bagi manusia seperti timah.
“Timah adalah sejenis zat yang tidak bisa terurai. Bahan berbahaya itu masuk melalui ikan, siput atau kerang laut yang jika dikonsumsi manusia secara otomatis akan langsung tertular pada manusia,” kata ahli biologi kelautan dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr Felix Rebung di Kupang, Selasa (9/2/2010).
Dosen Fakultas Pertanian Undana Kupang mengemukakan hal itu setelah mempelajari hasil uji Laboratorium Afiliasi Fakultas MIPA dan Sains Universitas Indonesia terhadap pencemaran minyak mentah (crude oil) di Laut Timor yang diumumkan pada 4 Januari 2010.
Direktur Laboratorium Afiliasi Fakultas MIPA dan Sains Universitas Indonesia dalam laporannya menyebutkan, kadar minyak yang mencemari Laut Timor mencapai 0,28 mg/liter, sedang kadar minyak yang diambil dengan menggunakan sampel dari rumput laut mencapai 3,64 mg/liter.
Sementara zat timah yang diambil dengan menggunakan sampel air laut mencapai 35,26 mg/liter, sedang zat timah yang diambil dengan menggunakan sampel rumput laut mencapai 29,26 mg/liter.
Felix Rebung mengatakan, berdasarkan Environmental Protection Agency (EPA), sebuah agen peneliti dari AS, zat timah yang dipandang normal akibat terjadinya pencemaran minyak hanya 3,4 ppb, jika sudah mencapai 35,26 mg/liter maka hal itu sudah termasuk dalam kategori sangat berbahaya.
Ia menjelaskan, efek dari zat timah tersebut akan menyebabkan terjadinya keracunan akut pada sistem syaraf pusat dalam jangka panjang, mengikat gugus aktif dalam sel darah merah sehingga pembentukan sel darah merah menjadi terhambat.
Tiga Menteri Tangani Dampak Lumpur Sidoarjo
[ Minggu, 31 Januari 2010 ]
SIDOARJO - Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) menargetkan tahun depan relokasi arteri jalan raya Porong tuntas. Selain pembangunan jalan baru, pemerintah sedang mengupayakan cara untuk mengatasi dampak semburan lumpur yang dialirkan ke Sungai Porong.
Tiga menteri langsung turun ke Sidoarjo untuk membantu mengatasi dampak lumpur. Yakni, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, dan Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta.
Mereka hadir saat peletakan batu pertama (ground breaking) flyover jalan arteri Porong-Siring II paket empat kemarin (30/1). Pemasangan tiang pancang dilakukan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto di Desa Ketapang, Kecamatan Tanggulangin.
Kepala BPLS Sunarso mengungkapkan, untuk membangun jalan arteri Porong-Gempol sepanjang 7,1 kilometer dibutuhkan tanah 123,7 hektare. Itu terdiri atas 26,3 hektare tanah kering dan 97,4 hektare tanah basah.
Sunarso menargetkan arus ekonomi akan kembali normal pada awal 2011. Tetapi, dia juga mengakui proses relokasi arteri Jalan Raya Porong bakal lama jika warga sulit diajak kerja sama. ”Khususnya saat proses pembebasan tanah,” ujarnya. Hingga kini, kata dia, permasalahan yang dihadapi BPLS adalah proses pembebasan lahan milik warga untuk relokasi jalan arteri. Jika lancar, akses jalan arteri akan dibuka awal tahun depan.
Relokasi jalan arteri itu dibangun empat paket. Paket I relokasi jalan arteri Raya Siring-Porong 1 menghabiskan dana APBN sebesar Rp 87,7 miliar. Paket II arteri Raya Siring-Porong II sepanjang 1,4 kilometer menghabiskan dana APBN Rp 82,6 miliar.
Untuk paket III, relokasi jalan arteri Raya Porong-Siring dibangun sepanjang 1,3 kilometer dengan biaya Rp 97,9 miliar. Paket IV relokasi jalan arteri Raya Porong-Siring II sepanjang 3,8 kilometer akan menelan biaya Rp 88 miliar.
Djoko Kirmanto berharap, pemerintah akan selalu memperbaiki infrastruktur di setiap daerah. Supaya relokasi arteri berjalan lancar, Djoko meminta warga bersedia membebaskan tanahnya secara legawa. ”Dimanfaatkan demi kepentingan bersama,” katanya.
Fadel Muhammad mengatakan, volume semburan lumpur lebih dari tiga tahun diperkirakan 100 ribu meter kubik. Hingga kini, telah dibuat rekayasa dalam bentuk pulau buatan di muara Sungai Porong seluas 40 hektare.
Kemarin dilakukan penanaman mangrove (bakau) oleh tiga menteri tersebut di pulau buatan muara Sungai Porong. BPLS juga meluncurkan tiga kapal keruk di pusat semburan. Setiap kapal keruk buatan dalam negeri itu berkapasitas 0,6 meter kubik per detik. (nuq/riq/dwi)
sumber : jawapos
Schools damaged, closed after quake
The Jakarta Post , Jakarta | Sat, 01/30/2010 5:39 PM | National
Hundreds of elementary school students in Central Aceh have been unable to attend classes after a magnitude-5 earthquake on Thursday night severely damaged their school buildings.
Spokesman for the regional administration Windi Darsa said Saturday at least 16 schools had been closed following the quake, which shook most part of Central Aceh.
He said the local government was in need of financial assistance to provide tents for the students.
“For the sake of safety, the school buildings have been closed. We expect the provincial government or other donors to help us erect emergency tents to keep the learning activities going,” Windi was quoted by Antara news agency.
The quake also affected hundreds of houses, health centers and other public facilities. Material losses from the disaster are estimated at Rp 5.3 billion.
After shock: Two elementary students passes a building damaged after a 5-magnitude quake shook three districts in Central Aceh and Bener Meriah regency in Aceh on Saturday. At least 300 houses and education facilities were reportedly damaged in the late Friday quake.
sumber : http://www.thejakartapost.com/news/2010/01/30/schools-damaged-closed-after-quake.html
http://neic.usgs.gov/neis/bulletin/neic_sabh_w.html





Komentar Terakhir