Beranda > vulkanik > Kawah Beracun Sinila

Kawah Beracun Sinila

Pegunungan yang berada di antara kabupaten yakni Banjarnegara, Wonosobo, dan Batang, Jawa Tengah, dan berada pada ketinggian 2.565 mdpl (meter di atas permukaan laut, red.) dikenal dengan nama Dieng.

Meski hanya berupa pegunungan, Dieng merupakan gunung api aktif yang memiliki sedikitnya 20 kawah yang dipantau aktivitasnya.

“Namun hanya sembilan kawah yang rutin dipantau aktivitasnya,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Dieng, Tunut Pujiarto, di Banjarnegara, Sabtu (24/1).

Salah satu kawah yang rutin dipantau yakni Kawah Sinila karena sempat menimbulkan kejadian luar biasa pada 20 Februari 1979 karena mengeluarkan gas beracun melalui retakan-retakan tanah sehingga menewaskan 149 warga sekitar yang menghirupnya.

Selain Sinila, Kawah Sileri juga pernah menyemburkan lumpur dan uap panas yang berlangsung selama empat hari, 21-24 Juli 2003, sehingga merusak tanaman perdu dan kentang.

Saat beraktivitas untuk pertama kalinya yang berlangsung sekitar 25 menit, Senin, 21 Juli 2003, sekitar pukul 15.10 WIB, Kawah Sileri menyemburkan lumpur dan uap panas dengan ketinggian sekitar 60 meter.

Semburan-semburan selanjutnya hanya berupa gerakan-gerakan air kawah yang mirip air.

Sebelumnya, Kawah Sileri pernah dua mengeluarkan letusan kegunungapian, yakni pada tahun 1964 dan 1984. Bahkan, diperkirakan aktivitas Kawah Sileri merupakan aktivitas siklus 20 tahunan yang kemungkinan masih akan terus berlanjut.

Selain itu, gempa juga sering melanda Gunung Dieng, salah satunya gempa tektonik yang terjadi pada Kamis, 8 November 2007.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi dan Geofisika, gempa tersebut terjadi dua kali sekitar pukul 03.00 WIB dan 08.00 WIB dengan kekuatan 3,6 skala Richter (SR).

“Meski hanya gempa tektonik, jika terjadinya terus-menerus dampaknya sangat besar karena daerah Dieng merupakan wilayah rawan gas beracun,” kata Tunut.

Menurut dia, guncangan akibat gempa tektonik dapat menimbulkan retakan-retakan pada tanah dan dikhawatirkan retakan tersebut terjadi pada tempat yang berdekatan dengan kantung-kantung gas beracun akan menyebabkan gas tersebut keluar khususnya di sekitar Kawah Sinila.

Ia mengatakan, sedikitnya terdapat 10 daerah di Gunung Dieng yang berada di Kabupaten Banjarnegara (Desa Sumberejo, Desa Simbar, Desa Pekasiran, Desa Pesurenan), Kabupaten Wonosobo (Desa Sikunang, Desa Ngandam, Kawasan Telaga Warna), dan Kabupaten Batang (Desa Wanapriya, Desa Gerlang, Desa Sidongkal).

Peristiwa letusan kembali terjadi di Gunung Dieng pada Kamis, 15 Januari 2009, yang bersumber dari Kawah Sibanteng. Bahkan, letusan tersebut dua kali terjadi yakni pukul 08.00 WIB dan 08.30 WIB.

Menurut Tunut, peristiwa tersebut merupakan letusan freatik yang menyebabkan erupsi sehingga terjadi longsoran yang menyumbat aliran kali Putih, yang berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo.

Material yang dihasilkan letusan tersebut, kata dia, sebagian kecil berupa lumpur dan sisanya berupa tanah longsoran akibat getaran letusan yang menyebar hingga radius 50-100 meter ke arah barat dan selatan, dengan luas sekitar 5 hektare.

Sementara diameter lubang letusan tersebut, lanjutnya, mencapai 50 meter.

“Kita tidak bisa mengukur kedalamannya karena seismograf tidak mencatat adanya kegempaan yang terjadi sebelum maupun sesudah letusan lantaran sensor seismograf berada sekitar 15 kilometer dari pusat letusan,” katanya.

Selain itu, ketebalan abu yang ditimbulkan letusan berkisar antara 1-2 milimeter yang menyebar sekitar 500 meter ke arah timur dari titik erupsi.

Letusan juga membuat tanah milik Perhutani di sekitar lokasi, tepatnya petak 28 BKPH Karangkobar mengalami kerusakan. Pohon bintani, akasia, dan puspa yang ditanam tahun 2000, tinggi antara 1,5 meter sampai 2 meter, tertutup material letusan yang berupa lumpur.

Konon, letusan freatik tersebut terdengar hingga radius 1 kilometer dari Kawah Sibanteng.

Akibat adanya letusan freatik tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi menaikkan status Gunung Dieng dari aktif normal (level I) menjadi waspada (level II) menyusul peningkatan aktivitas vulkanik gunung api itu, Kamis, sejak pukul 18.00 WIB.

“Kamis pagi ada kegempaan freatik sebanyak dua kali dari kawah Sibanteng, namun aktivitas erupsi freatik itu tidak membahayakan masyarakat sekitarnya karena jauh dari pemukiman,” kata Kepala PVMBG Badan Geologi Bandung, Dr Surono kepada ANTARA di Bandung.

Menurut dia, peningkatan status Dieng menjadi waspada itu sebagai antisipasi kemungkinan munculnya gas beracun yang bisa membahayakan bagi penduduk di Kompleks Dieng seperti yang terjadi pada 20 Februari 1979.

“Meski erupsi freatik yang terjadi saat ini di Kawah Sibanteng, namun dikuatirkan aktivitas vulkanik itu memicu aktivitas di Kawah Sinila yang 29 tahun lalu mengeluarkan gas beracun yang berbahaya,” kata Surono.

Namun demikian erupsi freatik yang terjadi di kawah Sibanteng tidak terdeteksi konsentrasi gas beracun, namun masyarakat di kawasan gunung itu diminta waspada.

Dampak lain dari erupsi yang terjadi Kamis pukul 08.00 WIB dan 08.30 WIB itu mengakibatkan longsoran yang menyumbat aliran kali Putih, sehingga kali itu berpotensi jebol dan memicu terjadinya banjir bandang.

“Karena itu PVMBG meminta agar seluruh kegiatan di kawasan Kali Putih dikosongkan untuk menghindari terjadinya banjir bandang,” kata Surono.

PVMBG juga meminta agar kawasan wisata air panas Pulosari di kali Cikidang untuk dikosongkan guna mengantisipasi kemungkinan terjadi banjir bandang akibat penyumbatan kali itu di dekat kawah Sibanteng.

Selain itu masyarakat maupun wisatawan untuk sementara diminta tidak mendekat ke kawah Si Banteng dan kawah aktif lainnya yakni Kawah Sinila, Kawah Timbang, Kawan Siglagah, Kawah Sikidang, dan lainnya dalam radius 300 meter.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarnegara Agus Hermawan mengatakan, pihaknya tidak akan menutup kawasan wisata Gunung Dieng.

“Pengunjung masih bisa mendatangi Kawah Sikidang, namun petugas di sana tetap kami minta untuk selalu koordinasi dengan pihak kepolisian maupun pos pengamatan gunung api,” kata dia di Banjarnegara, Jumat.

Selain itu, kata dia, di sekitar lokasi yang berbahaya telah dipasangi papan peringatan agar pengunjung tidak mendekati kawah.

Meski demikian, lanjutnya, jika sewaktu waktu ada perkembangan yang membahayakan pengunjung, kawasan Dieng segera ditutup.

Demikian pula dengan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Wonosobo Aziz Wijaya. Dia mengatakan, pihaknya akan tetap membuka lokasi wisata karena belum ada aktivitas vulkanis kawah-kawah Dieng lainnya.

Aktif Normal

Seminggu pascaletusan freatik di Kawah Sibanteng, PVMBG telah menurunkan status Gunung Dieng dari waspada menjadi aktif normal.

“Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menurunkan status Gunung Dieng dari waspada menjadi aktif normal sejak Kamis (22/1), pukul 16.00 WIB,” kata Tunut Pujiarjo, di Banjarnegara, Sabtu (24/1).

Menurut dia, hingga saat ini sudah tidak ada lagi letusan-letusan freatik yang menyebabkan erupsi di sejumlah kawah di Gunung Dieng.

Meski demikian, kata dia, pihaknya tetap melakukan pemantauan terhadap kawah-kawah aktif di Gunung Dieng.

Bahkan saat ini, lanjutnya, PVMBG telah memasang lima alat pendeteksi gempa (letusan) vulkanik dipasang di sekitar Kawah Sibanteng dengan jarak 50 meter hingga 1 kilometer. Posisi paling jauh berada di Dieng Plato Theatre.

“Pemasangan lima alat `Datamark? dilakukan oleh tim dari PVMBG Bandung dilakukan dua hari, Sabtu-Minggu (17-18/1),” katanya.

Ia mengatakan, lima alat pendeteksi gempa vulkanik yang baru dipasang, diharapkan mampu menangkap getaran yang ditimbulkan kawah-kawah aktif lain seperti Sikidang, Siglagah, dan Timbang.

sumber : http://www.news.id.finroll.com/articles/10968-____mungkinkah-tragedi-kawah-sinila-terulang-lagi—oleh-sumarwoto____.html

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: