Beranda > pasca bencana, sosialisasi > Sekolah Siaga Bencana

Sekolah Siaga Bencana

Bengkulu Siapkan 3 Sekolah Siaga Bencana

Senin, 23 November 2009 | 18:24 WIB

BENGKULU, KOMPAS.com — Sebanyak tiga sekolah di Kota Bengkulu, yakni SD Negeri 1, SMP Negeri 15, dan SMA Negeri 6, akan disiapkan menjadi sekolah siaga bencana untuk mengurangi risiko bencana di kalangan pelajar.

“Tiga sekolah ini dipilih karena posisinya dekat dengan wilayah pantai dan akan menjadi percontohan sekolah siaga bencana khususnya gempa bumi dan tsunami,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu Yohanes Noor, Senin (23/11).

Noor mengatakan, ketiga sekolah ini akan dibina oleh tenaga pendamping selama satu tahun dengan dana Rp 1 miliar. Dana tersebut merupakan dana hibah dari organisasi PBB, “United Nation Development Program” (UNDP). Adapun kegiatan yang dilakukan, antara lain, penyesuaian bangunan sekolah dengan potensi bencana.

“Misalnya tangga atau pintu kelas yang terlalu kecil akan dibesarkan, kemudian penetapan lokasi evakuasi dan sistem penyelamatan diri saat bencana terjadi,” katanya.

Selain tiga sekolah ini, sejumlah sekolah lain di sekitarnya juga akan dilibatkan sehingga terbentuk forum sekolah siaga bencana. Selain program BPBD, sekolah siaga bencana juga dilakukan oleh PMI Bengkulu bekerja sama dengan German Red Cross (GRC).

Ketua PMI Provinsi Bengkulu AS Alwie mengatakan, program sekolah siaga bencana dilakukan bersama dengan program pengembangan organisasi PMI untuk meningkatkan kapasitas respons dan manajemen bencana.

“Ada 10 sekolah di Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, dan Kabupaten Mukomuko yang akan dijadikan sebagai sekolah siaga bencana,” katanya.

PMI Kembangkan Lebih dari 700 Sekolah Siaga Bencana

Sabtu, 14 November 2009 | 19:47 WIB

CILACAP, KOMPAS.com- Para siswa sekolah di kawasan rawan bencana harus mulai dapat mengenali kondisi alam sekitarnya, dan menentukan jalur evakuasi yang dapat ditempuh jika bencana itu datang. Dalam kondisi panik sekali pun, paling tidak siswa dapat menolong dirinya sendiri.

Misi tersebut tengah dikembangkan Palang Merah Indonesia pada beberapa sekolah dalam program Sekolah Siaga Bencana (SSB) di kawasan rawan bencana di Indonesia.

“Program ini sudah kami kembangkan sejak setahun lalu,” kata Kepala Divisi Palang Merah Remaja dan Relawan PMI Yuliati Susilo di sela simulasi evakuasi bencana tsunami di SMP Negeri 1 Binangun, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap, Sabtu (14/11).

Selama setahun itu, lanjutnya, program SSB telah diterapkan pada lebih dari 700 sekolah di sejumlah kabupaten di Provinsi Nanggro Aceh Darussalam, Bengkulu, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Bali.

Program itu ikut didukung oleh sejumlah lembaga donor dunia. Seperti simulasi evakuasi bencana tsunami di SMPN 1 Binangun ikut didanai oleh German Red Cross.

Wakil Sekretaris Cabang PMI Cilacap Andi Susilo mengatakan, simulasi itu merupakan rangkaian kerjasama PMI Cilacap dengan German Red Cross dalam mengembangkan metode mitigasi bencana alam pada siswa sekolah. Simulasi tersebut tak hanya melibatkan para siswa sekolah, melainkan juga warga sekitar dari Desa Widarapayung Wetan.

Karena mereka pernah mengalami bencana tsunami dan gempa, simulasi berlangsung seperti terjadi sesungguhnya. Setidaknya ada delapan siswa dan warga yang pingsan karena terguncang mengingat kembali kejadian tsunami yang pernah menyapu pesisir Cilacap tahun 2006 lalu, salah satunya adalah  Ida Nurul Kustiyaningsih (20).

Nuriyah (38), orang tua Ida, mengatakan, suara sirene dan teriakan warga mengingatkannya kembali saat seluruh warga desa panik saat tsunami datang menyapu pantai di desanya, Pantai Widarapayung. “Tapi dengan latihan seperti ini, kami akan selalu mengingat dan waspada terhadap ancaman tsunami,” katanya.

Perwakilan German Red Cross, Lars Moller mengatakan, pihaknya tak hanya ikut membantu pengembangan program SSB di Jateng, melainkan juga di Bengkulu dan Nanggero Aceh Darussalam. Dukungan bantuan itu juga bertujuan untuk mengembangkan metode mitigasi bencana pada siswa sekolah di Indonesia, sehingga dapat ditemukan model yang ideal dalam penanganan bencana baik untuk siswa maupun masyarakat.

 

Sudah Tahu Ada Sekolah Siaga Bencana?

Senin, 14 September 2009 | 18:51 WIB

BANDA ACEH, KOMPAS.com – UNESCO bekerja sama dengan LIPI merintis Sekolah Siaga Bencana (SSB) di Provinsi Aceh guna meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menghadapi bencana secara dini.

Juru bicara LIPI Irina Rafliana di Banda Aceh, Senin (14/9) mengatakan, LIPI mendukung hadirnya SSB melalui program pendidikan kebencanaan berbasis ilmu pengetahuan, yaitu “Community Preparedness” dan Pusat Penelitian Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDMRC). Sebelum diselenggarakannya SSB, LIPI juga mengadakan pelatihan yang diikuti oleh staf TDMRC dan mahasiswa relawan dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.

Irina menuturkan, pelatihan yang diberikan berupa peningkatan kemampuan TDMRC untuk melakukan kajian kesiapsiagaan sekolah, masyarakat, serta aparat dengan menggunakan alat ukur yang telah dikembangkan oleh UNESCO dan LIPI pada 2006 lalu. Para peserta akan menguji langsung kemampuannya dengan terjun di tiga sekolah yang akan dirintis sebagai sekolah percontohan siaga bencana, yaitu di SD Negeri 2, SMP Negeri 1, serta SMA Negeri 1 Banda Aceh.

“Kegiatan ini bertujuan membangun kapasitas sekolah untuk merintis sekolah siaga bencana yang akan melibatkan seluruh komponen sekolah,” katanya.

Di bawah supervisi tim LIPI dan UNESCO, mereka akan melakukan kegiatan Training of Teacher (TOT) dan SSB masing-masing selama dua hari, yaitu pada 14 -17 September 2009.

 

Program Sekolah Siaga Bencana akan Dijalankan di Maumere

 

Senin, 16 Februari 2009 | 17:08 WIB

JAKARTA, SENIN – Pada tanggal 16-26 Februari 2009 UNESCO, bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan melaksanakan kegiatan program peningkatan kemampuan (capacity building) Sekolah Siaga Bencana (SSB) di tiga sekolah di kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Program yang bertujuan untuk membangun generasi baru yang siaga bencana ini akan dilakukan di tiga sekolah yaitu SD Waioti, SMP 1 dan SMA 1.

Berdasarkan sejarah kegempaan, Maumere NTT – Flores, pernah mengalami beberapa kali gempa bumi. Bencana gempa dan tsunami terakhir di daerah ini terjadi pada tahun 1992, dengan korban 1952 meninggal dan 2126 luka-luka. Karena itu kesiapsiagaan masyarakat dan sekolah menjadi suatu yang mutlak.

Dari hasil kajian UNESCO dan LIPI, komunitas sekolah termasuk dalam kelompok masyarakat rentan dengan tingkat kesiapsiagaan yang masih minim. Kajian yang sama juga dilakukan di Kabupaten Sikka, dengan hasil yang tidak jauh berbeda. Rendahnya nilai indeks kesiapsiagaan komunitas sekolah di Kabupaten Sikka dikarenakan tidak ada satu parameterpun yang masuk kategori siap, dari lima parameter kesiapsiagaan bencana (parameter yang digunakan adalah: Pengetahuan dan sikap; Kebijakan; Rencana tanggap darurat; Peringatan Dini; dan mobilisasi sumber daya).

Menurut Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Dr. Yugo Kumoro, topografi kota Maumere relatif datar, dimana sebagian besar dataran pantai dihuni oleh masyarakat. “Secara geologis, tanah dan batuan penyusunnya terdiri dari pasir aluvial atau bersifat lepas dan belum mengeras”, jelasnya. “Kondisi tanah yang demikian mempunyai tingkat kerentanan yang tinggi terhadap goncangan gempa.”

Kegiatan yang dilakukan akan berupa bimbingan dan pengetahuan cara penyelamatan bencana gempa bumi dan tsunami; Penyusunan draft protap sekolah; Pelatihan dan pelaksanaan dari draft protap tersebut. Selain pelatihan yang diberikan kepada guru dan siswa, juga akan dilaksanakan simulasi yang akan melibatkan seluruh elemen sekolah serta masyarakat sekitar sekolah.

Pada hari simulasi sekolah siaga bencana, Rabu, tanggal 25 Februari 2009 direncanakan akan dihadiri oleh Direktur UNESCO, Prof. Hubert J Gijzen; Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebumian LIPI, Dr. Hery Harjono; dan Christine Hakim sebagai Duta untuk UNESCO (Good Will Ambassador for UNESCO).

 

 

 

 

 

sumber :

http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/11/23/18240739/Bengkulu.Siapkan.3.Sekolah.Siaga.Bencana

http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/11/14/19474566/pmi.kembangkan.lebih.dari.700.sekolah.siaga.bencana

http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/09/14/18510494/sudah.tahu.ada.sekolah.siaga.bencana..

http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/02/16/17080035/program.sekolah.siaga.bencana.akan.dijalankan.di.maumere

About these ads
  1. Maret 24, 2010 pukul 2:11 pm

    saya ingin bertemu dan bertatap muka dengan orang2 unesco bagaimana caranya ya, dan bagaimana mendapatkan bantuan dana untuk diklat kebencanaan tolong dong atas sarannyya.
    sekian dan terima kasih
    supriyanto,
    BPBPK Kota Samarinda

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: