Arsip

Archive for the ‘simulasi’ Category

Pendidikan Bencana Sangat Minim

Desember 26, 2009 Tinggalkan komentar
Jumat, 4 September 2009 | 20:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pendidikan kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi di sekolah-sekolah sangat minim. Akibatnya, siswa tidak banyak tahu bagaimana bertindak secara tepat saat menghadapi bencana yang secara tiba-tiba terjadi karena pengetahuan praktis dan pembiasaan yang terbatas.

S Hamid Hasan, Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia, yang dihubungi dari Jakarta, Jumat (4/9), mengatakan, kurikulum pendidikan yang diajarkan di sekolah-sekolah minim berorientasi pada kehidupan. Pembelajaran di kelas difokuskan pada penguasaan ilmu semata, bukan kemampuan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kaitan dengan kondisi geografis Indonesia yang rawan gempa dan bencana alam, pengetahuan yang diajarkan kepada siswa sebatas mengenalkan tanpa dibawa lebih jauh untuk mengajak siswa mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut. Selain itu, siswa juga tidak diajarkan secara rinci mengenai panduan-panduan praktis dan tepat yang mesti mereka lakukan saat bencana terjadi.

Read more…

Going Where Disaster Strikes in Indonesia

November 22, 2009 Tinggalkan komentar

Six men piled into a Land Rover and set off along a road that turned and twisted up into the hills of Cikelet in Garut, West Java, skirting steep cliffs and ravines. After a bone-shaking ride, the men, all members of an outdoor organization called Wanadri, arrived safely at a quake-affected village in Cikelet, delivering blankets, sarongs and rice.

At the end of a hard day’s work at the disaster scene, the men headed back to the camp for displaced persons in Pamalayan village, Cikelet, where they spent the evening like most others: sitting around a campfire recounting their experiences. A Sundanese song played on a hidden radio and pale moonbeams filtered through the trees as they sipped instant coffee and tallied up the damage to buildings in the village.

Since it was founded in Bandung in 1964, Wanadri — the name derives from the Sanskrit for forest (wana) and mountain (adri) — has been directly involved in disaster relief work around the country, as well as search-and-rescue operations in the archipelago’s mountains, rivers and seas.

And in the first few days and weeks after a 7.3-magnitude earthquake struck West Java on Sept. 2, the men based themselves at the camp for displaced persons in Cikelet, speeding the delivery of relief and other aid donated by private companies to the disaster areas. At just 35 kilometers from the epicenter of the quake, Cikelet was one of the worst- affected subdistricts.

No one knows when disaster will strike, but Wanadri strives to be there whenever it is needed.

The group has responded to numerous national disasters, including the eruption of Mount Galunggung in West Java in 1982, the tsunami in Aceh in 2004, and two years later in Pangandaran, West Java, the earthquake that jolted Yogyakarta, also in 2006, and this year’s dam burst in Situ Gintung in Tangerang, Banten.

Read more…

Simulasi dan sosialisasi bencana di Mojokerto dan Tulungagung

November 17, 2009 Tinggalkan komentar

Penanggulangan dan Simulasi Relatif Sulit Dilakukan

 

MOJOKERTO, KOMPAS.com – Antisipasi bencana alam berupa longsor ataupun banjir dengan melakukan simulasi ataupun penanggulangan di wilayah Kabupaten Mojokerto relatif masih sulit dilakukan. Sekretaris Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (PBP) Kabupaten Mojokerto, Mustain, Selasa (17/11) mengutarakan hal itu terkait dengan luasan wilayah serta kebutuhan biaya yang relatif besar.

Khusus untuk wilayah Kecamatan Pacet, yang tahun ini dikhawatirkan dihajar bencana longsor menyusul kebakaran hutan dahsyat di lereng Gunung Welirang dalam sebulan terakhir, Mustain mengatakan simulasi bencana relatif sulit dilakukan. “Simulasi (bencana) semacam itu sulit dilakukan, karena daerahnya sangat luas sehingga membutuhkan biaya yang besar juga,” katanya.


Sosialisasikan Bencana dari Rumah ke Rumah

 

TULUNGAGUNG, KOMPAS.com -Pemerintah Kabupaten Tulungagung mengaku mulai menyiapkan sejumlah langkah-langkah untuk mengantisipasi datangnya bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung di musim hujan tahun 2009. Dian taranya dengan mengadakan sosialisasi secara langsung kepada masyarakat dengan cara mendatangi dari rumah ke rumah.

“Sosialisasi di tingkat desa atau kelurahan saja tidak cukup. Kami melakukannya langsung kepada masyarakat dengan mendatangi rumah-rumah mereka agar mereka tanggap dalam menghadapi bencana yang mengancam,” ujar Kepala Bidang Linmas Bakesbang Linmas Kabupaten Tulungagung, Rudie Christanto, Selasa (17/11).

Ia mengaku mengerahkan seluruh personelnya untuk kegiatan tersebut. Sebagai prioritas sasaran dari sosialisasi ini adalah masyarakat yang berada di daerah bencana seperti di wilayah pantai, di lereng pegunungan dan daerah langganan banjir.

Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu daerah rawan bencana di Jawa Timur. Hampir setiap tahun, daerah yang berada di sebelah selatan Provinsi Jatim ini mengalami bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung.

Berdasarkan hasil mitigasi pemerintah Kabupaten Tulungagung, daerah rawan banjir terdapat di Kecamatan Kalidawir, Besuki dan sebagian wilayah di Kecamatan Gondang serta Kecamatan Pakel yang sering mendapat kiriman air dari Kabupaten Trenggalek.

Adapun daerah rawan longsor tersebar di Kecamatan Tanggung Gunung, Pucang Laban dan Campur Darat. Material longsor yang berupa tanah disertai batu kerikil sangat membahayakan jiwa penduduk di wilayah tersebut.

Kabupaten Tulungagung juga memiliki beberapa daerah pesisir pantai yang rawan terhadap gelombang tsunami seperti Pantai Sidem dan Pantai Brumbung. “Khusus di kedua pantai ini kami sudah mengadakan simulasi penanganan bencana pada tahun 2008. Tahun ini tidak diadakan karena biayanya terlalu besar,” katanya.

Terkait persiapan menghadapi bencana, pihaknya telah menyiagakan sedikitnya dua perahu karet milik Linmas, satu perahu karet milik Dinas Pengairan, dan satu perahu boat milik Dinas Perhubungan.

Sedikitnya 12 tenda peleton dan 100 tenda regu telah dibersihkan dan siap dipakai sewaktu-waktu. Termasuk satu unit tenda dapur umum beserta peralatannya.

“Selama musim hujan ini kami juga telah memberlakukan siaga 24 jam kepada petugas Satkorlak bencana, termasuk membuka layanan pelaporan dan pengaduan bencana yang bisa diakses langsung oleh masyarakat,” papar Rudie.

 

sumber :

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/17/21414891/Penanggulangan.dan.Simulasi.Relatif.Sulit.Dilakukan.

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/17/20533156/Sosialisasikan.Bencana.dari.Rumah.ke.Rumah

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.