Arsip

Archive for the ‘sosialisasi’ Category

Pendidikan Bencana Sangat Minim

Desember 26, 2009 Tinggalkan komentar
Jumat, 4 September 2009 | 20:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pendidikan kesiapsiagaan untuk mengurangi risiko bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi di sekolah-sekolah sangat minim. Akibatnya, siswa tidak banyak tahu bagaimana bertindak secara tepat saat menghadapi bencana yang secara tiba-tiba terjadi karena pengetahuan praktis dan pembiasaan yang terbatas.

S Hamid Hasan, Ketua Umum Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia, yang dihubungi dari Jakarta, Jumat (4/9), mengatakan, kurikulum pendidikan yang diajarkan di sekolah-sekolah minim berorientasi pada kehidupan. Pembelajaran di kelas difokuskan pada penguasaan ilmu semata, bukan kemampuan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kaitan dengan kondisi geografis Indonesia yang rawan gempa dan bencana alam, pengetahuan yang diajarkan kepada siswa sebatas mengenalkan tanpa dibawa lebih jauh untuk mengajak siswa mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut. Selain itu, siswa juga tidak diajarkan secara rinci mengenai panduan-panduan praktis dan tepat yang mesti mereka lakukan saat bencana terjadi.

Read more…

Teknologi Artificial Recharge Airtanah Dalam Mengatasi Banjir dan Kekeringan

Desember 22, 2009 Tinggalkan komentar

Pada tahun 2025 diperkirakan jumlah penduduk di Jabodetabek akan mencapai 39 juta jiwa, dimana 13 juta jiwa akan menempati DKI Jakarta, 10 juta jiwa di Kabupaten Bogor, 9,2 juta jiwa di Kabupaten Tangerang dan 6,8 juta jiwa di Kabupaten Bekasi (Studi JWRM, 1994). Dengan semakin besarnya konsentrasi penduduk di wilayah Jabodetabek tersebut, maka beban terhadap sumberdaya air di wilayah tersebut semakin besar. Keadaan di atas merupakan ancaman bagi konservasi sumber daya air.

Exploitasi airtanah dangkal maupun airtanah dalam terutama di Jakarta meningkat sangat pesat pada akhir dasawarsa ini.  Akibat dari exploitasi airtanah yang berlebihan tersebut, mengakibatkan terjadi penurunan muka airtanah secara berkala dan mengakibatkan keringnya sumur sumur dangkal masyarakat setempat dan terjadi intrusi air laut di daerah pesisir, amblesan tanah dan dapat terjadi pencemaran air tanah.

Ini merupakan permasalahan yang diangkat pada acara Workshop yang diselenggarakan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT) pada tanggal 7 Oktober 2009 di Ruang Komisi II BPPT Lantai 3 Jalan MH Thamrin 8 Jakarta. Penyelenggaraan Workshop ini, merupakan kerja bareng dengan BPPT, Departemen ESDM, Departemen PU, Kementerian KLH, Pemda DKI, Universitas Indonesia, ITB, IPB dan Universitas Tarumanegara. Jumlah peserta workshop sekitar 250 orang yang terdiri dari berbagai kalangan seperti Pemerintah pusat dan daerah, Lembaga riset, PT, BUMN, swasta, LSM, masyarakat, mahasiswa, organisasi profesi dan sebagainya.

Teknologi “artificial recharge” adalah teknik menyimpan air permukaan/hujan ke dalam akifer tertentu dengan cara injeksi melalui sumur dalam ketika air berlebih seperti hujan atau banjir menurut Idwan Suhardi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek KNRT membacakan sambutan Mennegristek pada acara tersebut. Idwan Suhardi mengatakan: “Hal ini sangat penting untuk dilakukan, mengingat imbuhan airtanah secara alamiah di beberapa daerah padat penduduk sudah sangat sulit terjadi, karena intensifnya pemanfaatan lahan dan tingginya laju perubahan penggunaan lahan serta pengaturan tata guna lahan yang belum menganut pada faham undang-undang RUTR dan RUTRW”. Yang seharusnya sepenuhnya diterapkan di wilayah otonomi daerah, baik Kota maupun Kabupaten serta Provinsi secara keseluruhan.

Read more…

Tanpa Struktur Tahan Gempa, 44.000 Rumah Rusak

Desember 5, 2009 Tinggalkan komentar
Jumat, 4 Desember 2009 | 20:49 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Dwi Bayu Radius

BANDUNG, KOMPAS.com – Sedikitnya 44.000 rumah di Jawa Barat yang tersebar di 14 kabupaten/kota, rusak berat akibat gempa pada 2 September 2009. Rumah-rumah rusak akibat gempa berkekuatan 7,3 skala Richter itu umumnya tak memiliki struktur bangunan tahan gempa.

Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Jabar Nugraha Abdurachman di Bandung, Jumat (4/12), mengatakan, banyaknya rumah yang rusak berat menunjukkan, k esadaran untuk mendirikan bangunan tahan gempa sangat penting.

Kesadaran itu dibutuhkan karena penduduk Jabar khususnya di bagian selatan, tinggal di daerah yang rawan gempa. Kabupaten Tasikmalaya, Garut, Cianjur, dan Sukabumi adalah daerah yang paling sering dilanda peristiwa alam itu.

Sebab, terdapat zona subduksi pertemuan dua lempeng yakni Indo-Australia dan Eurasia di lepas pantai daerah-daerah tersebut. Bukan gempa yang langsung menimbulkan korban jiwa tetapi bangunan atau infrastrukturnya bila runtuh bisa menyebabkan bencana itu, kata Nugraha.

Read more…

City announces plans for flood early warning system

November 23, 2009 Tinggalkan komentar

Indah Setiawati ,  The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Mon, 11/23/2009 10:14 PM  |  Jakarta

The Jakarta administration will develop an early warning system for areas around the Pesanggrahan River in South Jakarta, to mitigate possible flooding in this rainy season.

Since the Situ Gintung dam burst earlier this year, the areas have become more prone to flooding, because the dam that once retained flood water from the river is no longer in place.

Deputy Governor Prijanto said the system would station several workers in the former dam area who could make quick calls to heads of nearby residential areas whenever water levels exceeded acceptable limits.

Read more…

Sekolah Siaga Bencana

November 23, 2009 1 komentar
Bengkulu Siapkan 3 Sekolah Siaga Bencana

Senin, 23 November 2009 | 18:24 WIB

BENGKULU, KOMPAS.com — Sebanyak tiga sekolah di Kota Bengkulu, yakni SD Negeri 1, SMP Negeri 15, dan SMA Negeri 6, akan disiapkan menjadi sekolah siaga bencana untuk mengurangi risiko bencana di kalangan pelajar.

“Tiga sekolah ini dipilih karena posisinya dekat dengan wilayah pantai dan akan menjadi percontohan sekolah siaga bencana khususnya gempa bumi dan tsunami,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu Yohanes Noor, Senin (23/11).

Noor mengatakan, ketiga sekolah ini akan dibina oleh tenaga pendamping selama satu tahun dengan dana Rp 1 miliar. Dana tersebut merupakan dana hibah dari organisasi PBB, “United Nation Development Program” (UNDP). Adapun kegiatan yang dilakukan, antara lain, penyesuaian bangunan sekolah dengan potensi bencana.

“Misalnya tangga atau pintu kelas yang terlalu kecil akan dibesarkan, kemudian penetapan lokasi evakuasi dan sistem penyelamatan diri saat bencana terjadi,” katanya.

Selain tiga sekolah ini, sejumlah sekolah lain di sekitarnya juga akan dilibatkan sehingga terbentuk forum sekolah siaga bencana. Selain program BPBD, sekolah siaga bencana juga dilakukan oleh PMI Bengkulu bekerja sama dengan German Red Cross (GRC).

Ketua PMI Provinsi Bengkulu AS Alwie mengatakan, program sekolah siaga bencana dilakukan bersama dengan program pengembangan organisasi PMI untuk meningkatkan kapasitas respons dan manajemen bencana.

“Ada 10 sekolah di Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara, dan Kabupaten Mukomuko yang akan dijadikan sebagai sekolah siaga bencana,” katanya.

Read more…

Going Where Disaster Strikes in Indonesia

November 22, 2009 Tinggalkan komentar

Six men piled into a Land Rover and set off along a road that turned and twisted up into the hills of Cikelet in Garut, West Java, skirting steep cliffs and ravines. After a bone-shaking ride, the men, all members of an outdoor organization called Wanadri, arrived safely at a quake-affected village in Cikelet, delivering blankets, sarongs and rice.

At the end of a hard day’s work at the disaster scene, the men headed back to the camp for displaced persons in Pamalayan village, Cikelet, where they spent the evening like most others: sitting around a campfire recounting their experiences. A Sundanese song played on a hidden radio and pale moonbeams filtered through the trees as they sipped instant coffee and tallied up the damage to buildings in the village.

Since it was founded in Bandung in 1964, Wanadri — the name derives from the Sanskrit for forest (wana) and mountain (adri) — has been directly involved in disaster relief work around the country, as well as search-and-rescue operations in the archipelago’s mountains, rivers and seas.

And in the first few days and weeks after a 7.3-magnitude earthquake struck West Java on Sept. 2, the men based themselves at the camp for displaced persons in Cikelet, speeding the delivery of relief and other aid donated by private companies to the disaster areas. At just 35 kilometers from the epicenter of the quake, Cikelet was one of the worst- affected subdistricts.

No one knows when disaster will strike, but Wanadri strives to be there whenever it is needed.

The group has responded to numerous national disasters, including the eruption of Mount Galunggung in West Java in 1982, the tsunami in Aceh in 2004, and two years later in Pangandaran, West Java, the earthquake that jolted Yogyakarta, also in 2006, and this year’s dam burst in Situ Gintung in Tangerang, Banten.

Read more…

Simulasi dan sosialisasi bencana di Mojokerto dan Tulungagung

November 17, 2009 Tinggalkan komentar

Penanggulangan dan Simulasi Relatif Sulit Dilakukan

 

MOJOKERTO, KOMPAS.com – Antisipasi bencana alam berupa longsor ataupun banjir dengan melakukan simulasi ataupun penanggulangan di wilayah Kabupaten Mojokerto relatif masih sulit dilakukan. Sekretaris Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (PBP) Kabupaten Mojokerto, Mustain, Selasa (17/11) mengutarakan hal itu terkait dengan luasan wilayah serta kebutuhan biaya yang relatif besar.

Khusus untuk wilayah Kecamatan Pacet, yang tahun ini dikhawatirkan dihajar bencana longsor menyusul kebakaran hutan dahsyat di lereng Gunung Welirang dalam sebulan terakhir, Mustain mengatakan simulasi bencana relatif sulit dilakukan. “Simulasi (bencana) semacam itu sulit dilakukan, karena daerahnya sangat luas sehingga membutuhkan biaya yang besar juga,” katanya.


Sosialisasikan Bencana dari Rumah ke Rumah

 

TULUNGAGUNG, KOMPAS.com -Pemerintah Kabupaten Tulungagung mengaku mulai menyiapkan sejumlah langkah-langkah untuk mengantisipasi datangnya bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung di musim hujan tahun 2009. Dian taranya dengan mengadakan sosialisasi secara langsung kepada masyarakat dengan cara mendatangi dari rumah ke rumah.

“Sosialisasi di tingkat desa atau kelurahan saja tidak cukup. Kami melakukannya langsung kepada masyarakat dengan mendatangi rumah-rumah mereka agar mereka tanggap dalam menghadapi bencana yang mengancam,” ujar Kepala Bidang Linmas Bakesbang Linmas Kabupaten Tulungagung, Rudie Christanto, Selasa (17/11).

Ia mengaku mengerahkan seluruh personelnya untuk kegiatan tersebut. Sebagai prioritas sasaran dari sosialisasi ini adalah masyarakat yang berada di daerah bencana seperti di wilayah pantai, di lereng pegunungan dan daerah langganan banjir.

Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu daerah rawan bencana di Jawa Timur. Hampir setiap tahun, daerah yang berada di sebelah selatan Provinsi Jatim ini mengalami bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung.

Berdasarkan hasil mitigasi pemerintah Kabupaten Tulungagung, daerah rawan banjir terdapat di Kecamatan Kalidawir, Besuki dan sebagian wilayah di Kecamatan Gondang serta Kecamatan Pakel yang sering mendapat kiriman air dari Kabupaten Trenggalek.

Adapun daerah rawan longsor tersebar di Kecamatan Tanggung Gunung, Pucang Laban dan Campur Darat. Material longsor yang berupa tanah disertai batu kerikil sangat membahayakan jiwa penduduk di wilayah tersebut.

Kabupaten Tulungagung juga memiliki beberapa daerah pesisir pantai yang rawan terhadap gelombang tsunami seperti Pantai Sidem dan Pantai Brumbung. “Khusus di kedua pantai ini kami sudah mengadakan simulasi penanganan bencana pada tahun 2008. Tahun ini tidak diadakan karena biayanya terlalu besar,” katanya.

Terkait persiapan menghadapi bencana, pihaknya telah menyiagakan sedikitnya dua perahu karet milik Linmas, satu perahu karet milik Dinas Pengairan, dan satu perahu boat milik Dinas Perhubungan.

Sedikitnya 12 tenda peleton dan 100 tenda regu telah dibersihkan dan siap dipakai sewaktu-waktu. Termasuk satu unit tenda dapur umum beserta peralatannya.

“Selama musim hujan ini kami juga telah memberlakukan siaga 24 jam kepada petugas Satkorlak bencana, termasuk membuka layanan pelaporan dan pengaduan bencana yang bisa diakses langsung oleh masyarakat,” papar Rudie.

 

sumber :

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/17/21414891/Penanggulangan.dan.Simulasi.Relatif.Sulit.Dilakukan.

http://regional.kompas.com/read/xml/2009/11/17/20533156/Sosialisasikan.Bencana.dari.Rumah.ke.Rumah

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.