Arsip

Archive for the ‘tanggap bencana’ Category

Komando Gabungan sebagai solusi bencana Merapi

November 6, 2010 Tinggalkan komentar

Ini seri ketiga tentang CERT.

Merapi meletus pada tahun 2010 ini berdampak pada kerusakan di berbagai daerah meliputi 2 provinsi , DIY dan Jawa Tengah. Selain itu meliputi banyak kota, Boyolali, Sleman, Magelang dan lainnya. Bila kita memasukkan dampak debu, maka daftar kota dan provinsi akan semakin bertambah luas.  Dengan kompleksitas daerah bencana secara geografis dan politik, maka solusi komando bencana bisa dibagi menjadi 2 pilihan.

  1. Membagi penanganan bencana secara geografis/politik. Solusi ini sederhana, namun dalam pengalamannya, terbukti terdapat ketidakefektifan dan pembengkakan biaya.
  2. Membuat struktur ICS tunggal dengan pendekatan multiyuridiksi. Solusi ini dikenal sebagai Unified Command atau Komando Gabungan (KG).

KG tidak hanya bisa diterapkan untuk bencana meliputi multiyuridiksi namun juga bisa juga dipakai untuk bencana yang kompleks yang memerlukan pendekatan multifungsional. Sebagai contoh, kebakaran pabrik bahan kimia. Banyak tim yang terlibat dalam bencana ini. Misalnya, kepolisian, pemadamam kebakaran, medis, tim bahan kimia berbahaya, dll. Sehingga KG merupakan solusi yang tepat untuk mencapai keefektifan operasi.

Membuat struktur ICS tunggal dengan pendekatan multiyuridiksi. Solusi ini dikenal sebagai Unified Command atau Komando Gabungan.

Dengan KG, seluruh perwakilan dari masing-masing yuridiksi dapat berinteraksi dengan efetif dan merumuskan satu tujuan operasi beserta strategi. Namun, mereka tetap menjaga otoritas, tanggungjawab, dan akuntabilitasnya. Selain itu, setiap individu tetap mempertahankan prinsip ICS yaitu kesatuan komando. Setiap individu hanya melapor pada satu supervisor, sehingga miskomunikasi dapat dihindari. Terlebih pada bencana Merapi dengan banyaknya daerah yang terkena dampak dan banyaknya relawan dan tim penyelamat yang datang dari berbagai daerah dan latar belakang keahlian.

Dalam KG, secara struktur tidak jauh berbeda dengan sistem komando biasa seperti yang pernah saya tulis dalam seri kedua tulisan tentang tanggap bencana. Perbedaan terletak pada komandan tanggap bencana. Komandan tanggap bencana dipegang oleh komandan dari masing-masing yuridiksi. Sebagai contoh, BPBD Jawa Tengah bersama dengan BNPB dan badan-badan lainnya. Mereka bekerja merumuskan tujuan operasi gabungan.

Ada 4 unsur yang harus diperhatikan dalam KG ini :

  1. Kebijakan, tujuan, dan strategi
  2. Organisasi
  3. Sumber daya
  4. Operasional

Kebijakan, tujuan, dan strategi dirumuskan bersama-sama sebelum melakukan operasi taktis. Organisasi terdiri atas bermacam badan dari berbagai yuridiksi beroperasi dibawah struktur KG. Sumber daya disumbangkan oleh badan-badan tersebut yang memiliki tanggungjawab yuridiksi, fungsioanl, dan keuangan. Dalam KG, hanya satu orang yang memegang peranan sebagai Kepala Seksi Operasional. Orang ini yangtanggungjawab mengendalikan sumber daya taktis dan mengarahkan segala tindakan operasional tanggap bencana. Namun, sumber daya (manusia dan peralatan) tetap berada dalam kendali administrasi dan kebijakan masing-masing badan. Jadi meskipun komandan tanggap bencana dipegang oleh banyak pimpinan, namun dalam menerapkan operasional semua dikendalikan oleh satu orang.

Jadi meskipun komandan tanggap bencana dipegang oleh banyak pimpinan, namun dalam menerapkan operasional semua dikendalikan oleh satu orang.

 

 

 

 

Sistem Komando Bencana dan komponennya

November 3, 2010 1 komentar

Tulisan ini seri kedua tentang pengalaman saya menjadi sukarelawan tanggap bencana berbasis komunitas (CERT) di Amerika Serikat. Kali ini saya menyajikan pengetahuan dasar tentang sistem komando bencana. Saya berharap agar pengetahuan ini dapat diterapkan dengan baik oleh rekan-rekan relawan tanggap bencana di tanah air. Terlebih dengan beruntunnya bencana yang terjadi pada bulan Oktober 2010, yaitu banjir Wasior, tsunami dan gempa di Mentawai, gunung Merapi meletus dan lain sebagainya.

Incident Command System (ICS) yang bisa diterjemahkan sebagai Sistem Komando Bencana dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1970an. Ketika itu terjadi bencana besar kebakaran di wilayah California. Kerugian harta benda ditaksir mencapai jutaan dolar dan banyak menelan korban jiwa baik meninggal maupun luka-luka. Penelitian yang dilakukan atas peristiwa tersebut menunjukkan bahwa masalah respon bencana diakibatkan oleh tidak bagusnya manajemen penanganan bencana. Sedangkan kurangnya sumber daya atau gagalnya taktik penanganan bencana jarang menjadi penyebab masalah buruknya penanganan bencana.

Penelitian yang dilakukan atas peristiwa tersebut menunjukkan bahwa masalah respon bencana diakibatkan oleh tidak bagusnya manajemen penanganan bencana

ICS ini tidak hanya bisa diterapkan pada kondisi bencana, namun dapat juga digunakan untuk mengatur jalannya sebuah acara. ICS ini bagian penting dalam National Incident Management System (NIMS).  ICS digunakan di berbagai tingkatan adminsitrasi, baik pusat, daerah, maupun lokal. Begitu pula dengan sektor privat dan lembaga sosial masyarakat. Sistem ini diterapkan untuk mengorganisasi bencana dari yang kecil maupun yang paling rumit, baik bencana alam maupun bencana buatan manusia (terorisme). Sistem ini terstruktur untuk memfasilitasi segala aktifitas yang terangkum dalam 5 fungsi utama, yaitu :  komando, operasi, perencanaan, logistik, dan administrasi.

Prinsip komando dalam ICS ini terbagi dalam beberapa bagian. Bagian pertama yang harus dipahami adalah Rantai Komando. Rantai komando artinya adanya urutan garis otoritas dan hubungan pelaporan dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Segala laporan dan perintah harus mentaati garis rantai komando. Namun, hal ini tidak berlaku untuk aktifitas yang lain seperti meminta dan membagi informasi. Informasi dapat dibagi dan disebarluaskan secara fleksibel antar lini. Bagian yang kedua adalah Kesatuan Komando. Di bawah kesatuan komando, seluruh personel harus melapor hanya pada satu supervisor dan menerima tugas hanya dari supervisor tersebut.

Struktur Organisasi ICS dapat disimak sebagai berikut :

bersambung di edisi selanjutnya

Menjadi sukarelawan tanggap bencana

September 30, 2010 1 komentar

Tulisan ini akan saya buat berseri dalam kaitannya tentang penanganan bencana. Tulisan berseri ini seputar pengalaman saya sebagai tenaga sukarelawan tanggap bencana di Amerika Serikat.

————————-

Sebenarnya sudah cukup lama saya ingin bergabung sebagai tenaga sukarelawan tanggap bencana. Namun, baru tahun ini, saya mendaftarkan diri sebagai tenaga sukarelawan tanggap bencana di kampus saya, Wesleyan University. Komunitas kami ini dikenal sebagai Community Emergency Response Team (CERT). CERT ini bisa dibentuk setingkat kota atau kampus/perusahaan. Nah, kampus kami mempunyai tim CERT sendiri, sebagai bagian dari CERT kota Middletown. Meskipun CERT terbentuk kedaerahan namun anggota CERT suatu daerah dapat dipanggil untuk diaktifkan melayani tanggap bencana di daerah lain.

Untuk menjadi CERT Wesleyan, saya hanya mendaftarkan diri lewat email kepada komandan CERT Wesleyan. Kemudian saat liburan musim panas 2010, para anggota baru mendapatkan materi awal untuk menjadi anggota CERT. Setelah mendapatkan pelatihan materi awal, kami menjadi bagian dari Presiden’s Citizen Corps. Dan kamipun disumpah oleh perwakilan dari US Department of Homeland Security. Saya juga tidak ingat semua apa isi sumpahnya hehehehe…. Namun, pada intinya kami bersedia untuk menjadi sukarelawan untuk tanggap bencana, baik bencana alam maupun bencana yang disebabkan oleh aksi terorisme.

Isi pelatihan ini terbagi atas :

  1. Disaster Preparedness
  2. Fire Safety
  3. Disaster Medical Operations, terbagi menjadi 2 bagian
  4. Light Search and Rescue Operations
  5. CERT Organization
  6. Disaster Psychology
  7. Terrorism and CERT
  8. Disaster Simulation

saya akan bercerita lebih lengkap untuk seri berikutnya.

Kategori:tanggap bencana
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.