Arsip

Posts Tagged ‘gempa bumi’

Sistem Komando Bencana dan komponennya

November 3, 2010 1 komentar

Tulisan ini seri kedua tentang pengalaman saya menjadi sukarelawan tanggap bencana berbasis komunitas (CERT) di Amerika Serikat. Kali ini saya menyajikan pengetahuan dasar tentang sistem komando bencana. Saya berharap agar pengetahuan ini dapat diterapkan dengan baik oleh rekan-rekan relawan tanggap bencana di tanah air. Terlebih dengan beruntunnya bencana yang terjadi pada bulan Oktober 2010, yaitu banjir Wasior, tsunami dan gempa di Mentawai, gunung Merapi meletus dan lain sebagainya.

Incident Command System (ICS) yang bisa diterjemahkan sebagai Sistem Komando Bencana dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1970an. Ketika itu terjadi bencana besar kebakaran di wilayah California. Kerugian harta benda ditaksir mencapai jutaan dolar dan banyak menelan korban jiwa baik meninggal maupun luka-luka. Penelitian yang dilakukan atas peristiwa tersebut menunjukkan bahwa masalah respon bencana diakibatkan oleh tidak bagusnya manajemen penanganan bencana. Sedangkan kurangnya sumber daya atau gagalnya taktik penanganan bencana jarang menjadi penyebab masalah buruknya penanganan bencana.

Penelitian yang dilakukan atas peristiwa tersebut menunjukkan bahwa masalah respon bencana diakibatkan oleh tidak bagusnya manajemen penanganan bencana

ICS ini tidak hanya bisa diterapkan pada kondisi bencana, namun dapat juga digunakan untuk mengatur jalannya sebuah acara. ICS ini bagian penting dalam National Incident Management System (NIMS).  ICS digunakan di berbagai tingkatan adminsitrasi, baik pusat, daerah, maupun lokal. Begitu pula dengan sektor privat dan lembaga sosial masyarakat. Sistem ini diterapkan untuk mengorganisasi bencana dari yang kecil maupun yang paling rumit, baik bencana alam maupun bencana buatan manusia (terorisme). Sistem ini terstruktur untuk memfasilitasi segala aktifitas yang terangkum dalam 5 fungsi utama, yaitu :  komando, operasi, perencanaan, logistik, dan administrasi.

Prinsip komando dalam ICS ini terbagi dalam beberapa bagian. Bagian pertama yang harus dipahami adalah Rantai Komando. Rantai komando artinya adanya urutan garis otoritas dan hubungan pelaporan dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Segala laporan dan perintah harus mentaati garis rantai komando. Namun, hal ini tidak berlaku untuk aktifitas yang lain seperti meminta dan membagi informasi. Informasi dapat dibagi dan disebarluaskan secara fleksibel antar lini. Bagian yang kedua adalah Kesatuan Komando. Di bawah kesatuan komando, seluruh personel harus melapor hanya pada satu supervisor dan menerima tugas hanya dari supervisor tersebut.

Struktur Organisasi ICS dapat disimak sebagai berikut :

bersambung di edisi selanjutnya

Padang Lebih Siap Hadapi Gempa dan Tsunami

Agustus 12, 2010 1 komentar
Tribunnews.com – Kamis, 5 Agustus 2010 19:29 WIB
Laporan Wisnu Agung Prasetyo, Asisten SKP BSB
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
– Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), saat ini dinilai lebih maju dalam mengantisipasi kemungkinan datangnya di masa mendatang.

Kemajuan tersebut ditunjukkan dengan berbagai upaya mitigasi bencana yang dilakukan Pemerintah Kota Padang dan Provinsi Sumatera Barat, serta Taruna Siaga Bencana (Tagana) setempat.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan shelter multifungsi sebagai tempat perlindungan sekaligus terminal evakuasi apabila terjadi gempa dan tsunami. Hal tersebut dikatakan oleh Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) Andi Arief, Kamis (5/8/2010), setelah mendapat laporan dari Tim Assessment dari Kantor SKP BSB yang sedang melakukan penilaian terhadap kesiapan Sumatera Barat, khususnya Kota Padang dan Kepulauan Mentawai, dalam menghadapi potensi  gempa bumi dan tsunami.

“Padang dan Mentawai berada pada jalur red zone, salah satu jalur patahan tektonik aktif yang paling rawan gempa di Indonesia. Kewaspadaan pemerintah dan masyarakat melalui berbagai langkah mitigasi bencana, harus ditingkatkan,” kata Andi Arief.

Pemkot Padang telah menyelesaikan pembangunan satu shelter multifungsi dari seratus shelter yang direncanakan. Satu shelter yang selesai dibangun itu merupakan gedung SMA Negeri 1 Padang.

“Secara umum, shelter mutifungsi didesain empat tingkat dengan luas bangunan yang bervariasi sesuai keadaan lokasi. Selain didesain khusus untuk memecah ombak, atap shelter juga difungsikan sebagai helipad bagi pendaratan helikopter,” lanjutnya.

Padang pantas bersiap untuk menghadapi situasi yang sulit. Sebab, menurut Andi, setidaknya terdapat tiga hasil riset yang menyebutkan tingginya potensi kegempaan di Padang dan gugusan Kepulauan Mentawai, yang dipisahkan oleh selat Mentawai.

“Tiga riset tersebut adalah penelitian koral mikroatal yang dilakukan Dr. Danny Hilman Natawidjaja dari LIPI, peta seismic hazard 2010 yang baru saja dirilis oleh sembilan pakar gempa bumi Indonesia, serta analisis statistik yang dilakukan Ir. Didik Wahju Widjaja,” katanya.

Bagian pesisir Padang yang padat, oleh National Geographic juga disebut sebagai tempat beresiko tertinggi di dunia apabila terjadi tsunami. (*)

Schools damaged, closed after quake

Januari 31, 2010 Tinggalkan komentar

The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Sat, 01/30/2010 5:39 PM  |  National

Hundreds of elementary school students in Central Aceh have been unable to attend classes after a magnitude-5 earthquake on Thursday night severely damaged their school buildings.

Spokesman for the regional administration Windi Darsa said Saturday at least 16 schools had been closed following the quake, which shook most part of Central Aceh.

He said the local government was in need of financial assistance to provide tents for the students.

“For the sake of safety, the school buildings have been closed. We expect the provincial government or other donors to help us erect emergency tents to keep the learning activities going,” Windi was quoted by Antara news agency.

The quake also affected hundreds of houses, health centers and other public facilities. Material losses from the disaster are estimated at Rp 5.3 billion.

After shock: Two elementary students passes a building damaged after a 5-magnitude quake shook three districts in Central Aceh and Bener Meriah regency in Aceh on Saturday. At least 300 houses and education facilities were reportedly damaged in the late Friday quake.

sumber : http://www.thejakartapost.com/news/2010/01/30/schools-damaged-closed-after-quake.html

http://neic.usgs.gov/neis/bulletin/neic_sabh_w.html

Kategori:gempa bumi Tag:,

Wapres Setuju Cadangan Bencana Dipinjam untuk Bangun Rumah

Januari 28, 2010 Tinggalkan komentar
Kamis, 28 Januari 2010 | 17:48 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Wakil Presiden Boediono dalam rapat terbatas mengenai penanggulangan bencana Tasikmalaya, Jawa Barat, menyetujui penggunaan dana cadangan bencana sementara di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) senilai Rp 1,3 triliun untuk membangun rumah tahan gempa pasca bencana gempa bumi di Tasikmalaya, awal September tahun  lalu.

Pinjaman dana bencana dilakukan karena jika menunggu dana APBN-P 2010 baru dapat dilakukan pada April mendatang. Padahal, dana yang dibutuhkan sekarang sudah mendesak dikeluarkan.

Hal itu disampaikan Kepala BNPB Syamsul Maarif dalam keterangan pers di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (28/1/2010) sore ini.

Rapat terbatas yang dipimpin Wapres Boediono dihadiri Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Mensos Salim Segaf Aljufrie, dan Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto, serta Gubernur Jawa Barat Acmad Heryawan.

“Sambil menunggu perubahan APBN 2010 April mendatang, Wapres setujui penggunaan dana cadangan bencana di BNPB dulu. Nanti, dana di BNPB akan ditutup dari dana APBN-P 2010,” kata Syamsul.

Dana cadangan bencana di BNPB tercatat Rp 3,5 triliun. Sedangkan penggunaan dana cadangan bencana untuk membangun kembali rumah pasca gempa di Tasikmalaya baru terpakai Rp 217,65 miiar dan dana APBD Provinsi Jawa Barat senilai Rp 240 miliar untuk membangun rumah tahan gempa sebanyak 5.379 rumah yang rusak berat dan 43.980 unit rumah yang rusak sedang.

“Itu baru rumah dan belum sekolah, masjid, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang akan dibangun kembali dengan dana sektoral kementerian dan lembaga,” ujar Achmad Heryawan.

Dikatakan Achmad Heryawan, saat ini tercatat masih ada 41.434 unit rumah yang rusak berat dan sebanyak 60.845 unit rumah yang rusak sedang sehingga masih diperlukan dana Rp 1,3 triliun untuk membangunnya kembali.

Total dana rekonstruksi dan rehabilitasi pasca bencana gempa bumi di Tasikmalaya tercatat Rp 3,2 triliun.

sumber : http://nasional.kompas.com/read/2010/01/28/17484423/Wapres.Setuju.Cadangan.Bencana.Dipinjam.untuk.Bangun.Rumah.

Indonesian Government to Test Stability of Buildings Against Quakes

Januari 19, 2010 Tinggalkan komentar

January 01, 2010

Putri Prameshwari & Ismira Lutfia

After two major earthquakes last year left hundreds dead and millions of dollars worth of infrastructure destroyed, the government on Wednesday said it would begin using a new method to determine the ability of an area to withstand seismic tremors.

Edi Prihantoro, an analyst at the State Ministry for Research and Technology, said a system called Probabilistic Seismic Hazard Analysis would be carried out at sites being eyed for building construction.

Using the PSHA, the soil conditions on a construction site would be evaluated, and the data sent to the Ministry of Public Works, which would then specify a set of guidelines for the construction.

The PSHA, Edi said, would help minimize the number of casualties and damage to property caused by earthquakes. An earthquake by itself doesn’t kill people, but brings down poorly constructed buildings.

And because there is no way of predicting when an earthquake will strike, ensuring a structure’s stability is the next best thing, he added.

“With the PSHA, we can learn, for example, whether the soil at a certain area is stable enough to carry the weight of a building,” Edi said.

Josia Irwan Rastandi, chairman of the structural reliability testing division at University of Indonesia’s School of Engineering, said buildings in here generally have little resistance to seismic forces because they were not up to strict standards for construction.

“Jakarta is the only city where infrastructure is tested by a building construction supervisory team [TPKB],” he said.

Edi said the government was preparing to use the PSHA in Java and Sumatra, with Papua and Sulawesi to follow.

“We’re handing [the system] over to local administrations so they can apply it themselves,” he said.

Edi said the Research and Technology Ministry also has plans to boost disaster awareness among students this year by publishing a guidebook that would be distributed to all school levels across the country.

“We’ve also been doing tsunami drills with the local administrations,” Edi said.

Nirwono Joga, an urban planning expert from the civil engineering department of the Trisakti University, said buildings must be strong enough to resist at least a magnitude-8 earthquake.

“Poorly constructed buildings are the main cause for casualties in an earthquake,” Nirwana said.

sumber : http://thejakartaglobe.com/national/indonesian-government-to-test-stability-of-buildings-against-quakes/350391

Daerah Kepulauan Butuh Alat Deteksi Dini Bencana

Januari 15, 2010 Tinggalkan komentar

Jumat, 15 Januari 2010 | 17:29 WIB

MANADO, KOMPAS.com - Sejumlah daerah kepulauan di Provinsi Sulut, sangat membutuhkan alat deteksi dini bencana alam, baik gempa bumi, tsunami, badai dan sebagainya.

“Hampir setiap saat beberapa kepulauan di bagian utara Sulut, seperti Kabupaten Talaud, Sangihe dan Sitaro selalu mengalami bencana alam namun terlambat untuk ditangani,” kata Ketua DPRD Sulut Meiva Lintang, di Manado, Jumat (15/1/2010).

Kondisi itu menyebabkan sejumlah warga harus rela dievakuasi ke tempat aman, guna menghindari dampak buruk dan lebih parah.

Lintang mencontohkan, musibah banjir di Kabupaten Sangihe atau tepatnya di Kampung Laine dan Tatilade akibat cuaca buruk, karena tidak adanya alat deteksi dini untuk meminta warga mewaspadainya.

“Geografis di Kabupaten Sangihe, Talaud dan Sitaro dengan ratusan pulau membuat pemerintah sulit melakukan langkah evakuasi, sehingga perlu peringatan dini bagi warga agar waspada,” katanya.

Kepala Biro Pemerintahan dan Humas Pemprov Sulut Roy Tumiwa mengatakan, Gubernur Sulut SH Sarundajang telah meminta jajaran pemerintah kabupaten dan kota agar disampaikan kepada warga untuk mewaspadai ancaman bencana alam banjir dan longsor disertai gelombang laut tinggi.

“Pemerintah tetap sosialisasikan pada warga agar mewaspadai berbagai ancaman bencana seperti pemukiman di Daerah Aliran Sungai (DAS), daerah tebing tinggi hingga pesisir laut akibat gelombang laut,” katanya.

sumber : http://regional.kompas.com/read/2010/01/15/17290820/Daerah.Kepulauan.Butuh.Alat.Deteksi.Dini.Bencana

Bencana Indonesia 2009

Januari 8, 2010 Tinggalkan komentar
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.