Beranda > pasca bencana > Repotnya Merancang Fondasi di Tanah Rawa

Repotnya Merancang Fondasi di Tanah Rawa

sabtu, 21 November 2009

Jawa Pos Group mengalokasikan sumbangan pembaca untuk mendirikan bangunan-bangunan sekolah tahan gempa di Sumbar.

SANDY ADRI, Padangpariaman

ANAKANAK SD 11 Nagari Parit Malintang, Kecamatan Lingkung, kini mempunyai ”pemandangan” baru saat rehat di sekolah/tenda darurat mereka.

Sudah beberapa hari di lokasi bekas sekolah yang hancur kena gempa itu terlihat hilir mudik tim peneliti dari Labor Mekanika Tanah (Mektan) Fakultas Teknik Sipil Universitas Andalas (Unand). Tim tersebut sedang merancang pembangunan rumah tahan gempa.

Membangun gedung tahan gempa memang tidak gampang. Kerepotan itu bahkan terasa sejak merancang fondasi. Berbeda dari umumnya gedung biasa, merancang fondasi harus diawali dengan uji sondir. Yakni, merancang desain struktur tanah fondasi hingga diketahui titik stabilitasnya. Dengan uji tersebut, fondasi nanti mampu menahan beban bangunan yang akan didirikan.

”Termasuk, lebih tahan terhadap guncangan gempa,” jelas pakar konstruksi Febrin Anas Ismail.

Selain SD 11 Nagari Parit Malintang, uji sondir dilakukan enam peneliti FTS Unand itu di tanah calon lokasi SMP Negeri 25 Padang. Pembangunan dua sekolah itu didanai dari sumbangan pembaca Jawa Pos Group.

Semua peralatan uji itu terbuat dari besi. Yakni, alat penetrasi konus, bidang geser, bahan baja, pipa dorong, batang dalam, mesin pembeban hidraulis, dan perlengkapan lain. Dengan peralatan tersebut, enam anggota tim peneliti, yakni Ijong, Dodi, Ivan, Daniel, Fauzi, dan Barli, bekerja untuk mengetahui kedalaman tanah keras. Itu ditandai oleh perlawanan penetrasi konus yang ditanam dan hambatan lekat tanah pada ujung konus tersebut.

Selain itu, dari uji tersebut didapat sampel tanah untuk diuji di laboratorium. Dalam jangka lima hari, hasil uji sampel digunakan sebagai referensi atau acuan pendirian bangunan serta sifat daya dukung tanah keras. Hasil ujian juga bisa digunakan untuk interpretasi perlapisan tanah yang merupakan bagian dari desain fondasi.

Dari hasil uji sondir tersebut, di SD 11 didapat lapisan tanah keras pada kedalaman 15 meter. Sedangkan di SMPN 25 Padang, ujung konus sudah mencapai tanah keras di kedalaman 5,6 meter. ”Untuk memenuhi konsep rumah bertingkat yang tahan gempa, fondasi bangunan memang harus digali sampai di kedalaman tanah keras itu,” jelas Barli.

Dalam penelitian kemarin, tim tersebut harus bekerja teliti, meski dihadapkan pada kondisi medan yang sulit. Di SD 11 Parit Malintang dengan luas tanah mencapai 60 x 50 meter, peneliti mengambil dua sampel. Karena kondisi di bawah permukaan tanah tidak bisa ditebak, satu ujung konus sampai tumpul.

Di SMPN 25 Padang, karena bekas gedung sudah tertutup beton dan tanah timbunan, akhirnya tim peneliti mengambil titik dan sampel tanah 14 meter di luar gedung sekolah. ”Kondisi tanah di kawasan Belanti (lokasi SMPN 25) ini hampir sama: tanah rawa,” ungkap Ijong.

Kondisi tanah seperti itu, kata Ijong, merupakan salah satu medan terberat. Selain tanah rawa, tantangan berat dalam uji sondir adalah daerah pinggiran pantai atau di daerah miring. ”Begitulah untuk memenuhi konsep bangunan tahan gempa. Untuk membangun fondasinya saja, banyak yang harus dipertimbangkan. Apalagi dengan bangunannya,” ujarnya.

Selain Unand, dalam pembangunan dua sekolah tersebut, Jawa Pos Group melibatkan tim teknis dari Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya. Sebagaimana direncanakan sebelumnya, SD 11 Nagari Parit Malintang dibangun satu lantai, sedangkan SMPN 25 Padang dibangun dua lantai. Dua-duanya didesain tahan gempa.

Hingga kini, para siswa di dua sekolah tersebut masih belajar di tenda atau kelas darurat. (jpnn)

sumber : jawapos.co.id

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: