Beranda > gempa bumi > Rumah Unik Khas Warga Kampung Naga, Tahan Gempa dengan Sistem Garumpai

Rumah Unik Khas Warga Kampung Naga, Tahan Gempa dengan Sistem Garumpai

[ Minggu, 21 Maret 2010 ]

Tiba di Kampung Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, pengunjung disuguhi pemandangan deretan rumah-rumah unik khas warga Kampung Naga. Rumah-rumah tersebut beratap ijuk dan rumbia serta berdinding kayu dan anyaman bambu.

Struktur dan fondasi bangunan milik warga Kampung Naga disesuaikan dengan filosofi adat Sunda. Bangunan didirikan layaknya struktur tubuh manusia. Bangunan tersebut terdiri atas suku (kaki, Red), awak (badan, Red), dan sirah (kepala, Red). Tiap bagian diartikan warga sebagai akhlak yang harus dilaksanakan manusia. Yakni, tekad (niat), ucap (perkataan), dan lampah (perbuatan).

Keunikan bangunan Kampung Naga juga terletak pada cara pemasangannya. Atap rumah terpasang dengan kukuh. Bahkan, atap tersebut kuat menahan guncangan gempa bumi. Padahal, atap itu dipasang tanpa paku. Untaian atap rumah terpasang dengan adanya rangkaian bambu penyangga yang disebut garumpai. Garumpai berfungsi menjaga kesatuan konstruksi atap bangunan. Garumpai bisa lentur mengikuti gerakan ketika terjadi gempa.

Rumah adat Naga berdiri di atas batu-batu penyangga yang tidak dicor atau ditanam ke dalam tanah. Tiang-tiang utama rumah hanya ditumpukkan pada batu. Konstruksi tersebut bisa sangat dinamis mengikuti getaran. Tiap bagian memiliki fungsi penting. Ketiganya harus berjalan beiringan tanpa mungkin dipisahkan satu sama lain.

Seluruh bangunan di kampung seluas 1,5 hektare itu tertata dengan rapi. Luas tersebut tidak berubah dari masa ke masa. Pertambahan penduduk dialihkan ke luar Kampung Naga atau disebut Naga Luar. Saat ini, wilayah itu dihuni 314 orang. Batas Kampung Naga di sebelah timur adalah Sungai Ciwulan. Sebelah barat berbatasan dengan bukit dan hutan larangan. Sebelah utara dan selatan berbatasan dengan parit air.

Di antara total 113 bangunan di wilayah Kampung Naga, ada empat bangunan utama yang dianggap penting. Yakni, bale ageung, bale kampung, masjid, dan leuit (lumbung). (jpnn/c12/ruk)

sumber : jawapos

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: