Beranda > mitigasi, tanggap bencana > Komando Gabungan sebagai solusi bencana Merapi

Komando Gabungan sebagai solusi bencana Merapi

Ini seri ketiga tentang CERT.

Merapi meletus pada tahun 2010 ini berdampak pada kerusakan di berbagai daerah meliputi 2 provinsi , DIY dan Jawa Tengah. Selain itu meliputi banyak kota, Boyolali, Sleman, Magelang dan lainnya. Bila kita memasukkan dampak debu, maka daftar kota dan provinsi akan semakin bertambah luas.  Dengan kompleksitas daerah bencana secara geografis dan politik, maka solusi komando bencana bisa dibagi menjadi 2 pilihan.

  1. Membagi penanganan bencana secara geografis/politik. Solusi ini sederhana, namun dalam pengalamannya, terbukti terdapat ketidakefektifan dan pembengkakan biaya.
  2. Membuat struktur ICS tunggal dengan pendekatan multiyuridiksi. Solusi ini dikenal sebagai Unified Command atau Komando Gabungan (KG).

KG tidak hanya bisa diterapkan untuk bencana meliputi multiyuridiksi namun juga bisa juga dipakai untuk bencana yang kompleks yang memerlukan pendekatan multifungsional. Sebagai contoh, kebakaran pabrik bahan kimia. Banyak tim yang terlibat dalam bencana ini. Misalnya, kepolisian, pemadamam kebakaran, medis, tim bahan kimia berbahaya, dll. Sehingga KG merupakan solusi yang tepat untuk mencapai keefektifan operasi.

Membuat struktur ICS tunggal dengan pendekatan multiyuridiksi. Solusi ini dikenal sebagai Unified Command atau Komando Gabungan.

Dengan KG, seluruh perwakilan dari masing-masing yuridiksi dapat berinteraksi dengan efetif dan merumuskan satu tujuan operasi beserta strategi. Namun, mereka tetap menjaga otoritas, tanggungjawab, dan akuntabilitasnya. Selain itu, setiap individu tetap mempertahankan prinsip ICS yaitu kesatuan komando. Setiap individu hanya melapor pada satu supervisor, sehingga miskomunikasi dapat dihindari. Terlebih pada bencana Merapi dengan banyaknya daerah yang terkena dampak dan banyaknya relawan dan tim penyelamat yang datang dari berbagai daerah dan latar belakang keahlian.

Dalam KG, secara struktur tidak jauh berbeda dengan sistem komando biasa seperti yang pernah saya tulis dalam seri kedua tulisan tentang tanggap bencana. Perbedaan terletak pada komandan tanggap bencana. Komandan tanggap bencana dipegang oleh komandan dari masing-masing yuridiksi. Sebagai contoh, BPBD Jawa Tengah bersama dengan BNPB dan badan-badan lainnya. Mereka bekerja merumuskan tujuan operasi gabungan.

Ada 4 unsur yang harus diperhatikan dalam KG ini :

  1. Kebijakan, tujuan, dan strategi
  2. Organisasi
  3. Sumber daya
  4. Operasional

Kebijakan, tujuan, dan strategi dirumuskan bersama-sama sebelum melakukan operasi taktis. Organisasi terdiri atas bermacam badan dari berbagai yuridiksi beroperasi dibawah struktur KG. Sumber daya disumbangkan oleh badan-badan tersebut yang memiliki tanggungjawab yuridiksi, fungsioanl, dan keuangan. Dalam KG, hanya satu orang yang memegang peranan sebagai Kepala Seksi Operasional. Orang ini yangtanggungjawab mengendalikan sumber daya taktis dan mengarahkan segala tindakan operasional tanggap bencana. Namun, sumber daya (manusia dan peralatan) tetap berada dalam kendali administrasi dan kebijakan masing-masing badan. Jadi meskipun komandan tanggap bencana dipegang oleh banyak pimpinan, namun dalam menerapkan operasional semua dikendalikan oleh satu orang.

Jadi meskipun komandan tanggap bencana dipegang oleh banyak pimpinan, namun dalam menerapkan operasional semua dikendalikan oleh satu orang.

 

 

 

 

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: